ayoo gabung,,,

ayoo gabung,,,

Senin, 07 Mei 2012

Tugas Individual


GURU YANG BAIK DAN GURU YANG HEBAT: Apakah bedanya? 

Pertanyaan yang tertuang dalam judul di atas antara lain dapat dijawab dengan memanfaatkan pandangan Mendikbud RI, Muh. Nuh yang disitir oleh Boy Yendra Tamin ( dalam http:// boyyendratamin.blogspot.com/2011/11/pendidik-profesional- antara-harapan-dan.html ). Menurut Nuh, “Guru yang baik akan menjelaskan sesuatu kepada muridnya sehingga paham, tetapi guru yang hebat adalah guru yang mampu menginspirasi dan memotivasi muridnya, sehingga mampu berbuat sesuatu yang baik dengan kemampuannya sendiri“.
--- 
TUGAS INDIVIDUAL ( untuk peserta perkuliahan Pembelajaran Menulis ) 

Pahamilah pernyataan Mendikbud itu, kemudian bacalah kelanjutan uraiannya dalam situs yang ditunjuk. Walau wacana itu sudah agak lama, sangat mungkin Anda belum sempat membacanya sampai tuntas, bukan? Usai membacanya, jawablah soal berikut berdasarkan pemahaman Anda terhadap isi wacana tersebut.
Selamat membaca, setelah itu berbagilah.

SOAL
1. Identifikasilah:
a) ciri-ciri guru yang baik;
Menurut Prof. Dr. S. Nasution, MA ada beberapa prinsip umum yang berlaku untuk semua guru yang baik, yaitu :
1.      1.Guru yang baik memahami dan menghormati siswa
2. Guru yang baik harus menghormati bahan pelajaran yang diberikan. Dengan pengertian ia harus menguasai bahan itu sepenuhnya, jangan hanya mengenal ini buku pelajaran saja, melainkan juga mengetahui pemakaian dan kegunaannya bagi kehidupan anak dan manusia umumnya.
3. Guru yang baik mampu menyesuaikan metode mengajar dengan bahan pelajaran.
4. Guru yang baik mampu menyesuikan bahan pelajaran dengan kesanggupan individu anak.
5. Guru yang baik harus mengaktifkan siswa dalam hal belajar.
6. Guru yang baik memberikan pengertian dan bukan hanya dengan kata-kata belaka.

b) ciri-ciri guru yang hebat.
Ciri guru hebat sebagai berikut.
(1)    Ucapan dan intonasinya jelas dan mudah dipahami. Siswa langsung menyerap makna dari ucapan guru tanpa harus berpikir lama dan berputar-putar. Ucapan guru tersistem, mantap, dan berterima dengan kejiwaan siswa.
(2)    Bobot keilmuannya sangat dalam dan luas. Sehari-hari, guru hebat mengikuti perkembangan zaman untuk memupuk keluasan keilmuannya. Tren zaman dapat cepat dimaknai oleh guru lalu diolah dengan bahasa guru untuk disajikan ke siswanya.
(3)    Orangnya lugas dan sederhana. Karena yang dihadapi adalah siswa bukan orang dewasa, guru hebat selalu menyampaikan keilmuannya dengan lugas dan mudah diterima siswanya.
(4)    Bersahabat dan peduli. Guru biasa selalu mengambil jarak dengan siswa karena menurutnya wibawa guru akan terbangun. Namun, tidak untuk guru hebat. Guru hebat bersahabat dengan siswanya sehingga terbangun kedekatan yang akan mempermudah berkomunikasi. Wibawa justru dibangun dari persahabatan antara siswa dengan guru.
(5)     Kaya metode dan media. Guru hebat teramat paham kalau siswa itu mudah jenuh, dinamis, dan kreatif. Menurutnya, mengajar harus menyenangkan, dinamis, dan kreatif. Jalan yang harus ditempuh adalah menerapkan pembelajaran dengan multimetode dan multimedia yang sesuai dengan keinginan siswa.
2. Jika diwajibkan memilih, apakah Anda akan berupaya untuk menjadi 
"guru yang baik" ataukah ingin menjadi "guru yang hebat"? Mengapa 
demikian? Tulislah minimal tiga alasan yang mendasari pilihan Anda itu.
Jika menjadi guru nantinya, saya memilih menjadi guru yang baik dan hebat.
Alasannya:
·         Seorang guru yang baik dan hebat menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.
·         Seorang guru yang baik dan hebat menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.
·   Seorang guru yang baik dan hebat memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa  mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.
·     Seorang guru yang baik dan hebat memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif,  membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.
·     Seorang guru yang baik dan hebat menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya.

3. Bagaimanakah profil ideal guru Bahasa Indonesia di era globalisasi ini?
Jelaskanlah menurut sudut pandang Anda masing-masing.
Menurut saya, profil ideal guru Bahasa Indonesia di era globalisasi ini yaitu:
1.      Pintar dan berwawasan luas.
2.      Disiplin dan tepat waktu.
3.      Mampu menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi seperti menggunakan teknologi internet.
4.      Berkepribadian yang berwibawa menjadi teladan bagi peserta didik dan berahklak mulia
5.      Menjaga hubungan baik dan harmonis dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/ wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

4. Adakah manfaat yang Anda peroleh setelah membaca wacana itu?
Jika ada, tulislah semua manfaat yang dapat Anda petik darinya.
Manfaat yang diperoleh setelah membaca wacana itu adalah:
·         Pengetahuan lebih bertambah mengenai ciri-ciri guru baik dan guru hebat.
·         Ternyata tidak mudah untuk menjadi guru yang hebat.
·         Banyak inspirasi yang saya dapatkan untuk menjadi guru yang baik dan guru yang hebat.

Daftar Pustaka

AchmadRofik.2011.”Karakteristik Guru Profesional”.tersedia http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2108461-ciri-ciri-kompetensi-guru-yang/#ixzz1uDuvIOnT [06 Mei 2012]

Dr.Suyatno. M.Pd.2011.”Gardu Guru”.tersedia http://garduguru.blogspot.com/2011/11/ciri-ciri-guru-hebat.html [06 Mei 2012]

Ridwan Nur Arifin.2011.”Ciri-ciri guru yang baik”.tersedia http://kreatifpangkalpintar.wordpress.com/2011/04/25/karakteristik-kompetensi-dan-ciri-ciri-guru-yang-baik [ 06 Mei 2012]

Rabu, 11 April 2012

Latihan 1


Mata Kuliah    : Bahasa Indonesia                              
Dosen              : Hj. Isna Sulastri, Dra. M. Pd.
Nama               : Herni Apriani
NIM                 : 41032151111021
Tanggal           : 11 April 2012


BAGIAN A


Petunjuk
1. Kerjakanlah soal di bawah ini dengan cara menghitamkan huruf B jika pernyataan yang terdapat dalam soal, Anda anggap benar dan hitamkan S jika salah. Contoh jika jawaban betul: ( B-S ).
2. Jawaban ditulis langsung pada lembar soal ini. Untuk ini silakan dikopi paste terlebih dahulu.
3. Pengetikan soal ini belum tertata rapi maka rapikanlah dalam blog Anda.

SOAL

1.   Tujuan utama perkuliahan Bahasa Indonesia adalah untuk menumbuhkembangkan keterampilan berbahasa mahasiswa, baik lisan atau pun tulisan ( B-S ).
2.      Salah satu upaya menumbuhkembangkan keterampilan berbahasa mahasiswa adalah  dengan menumbuhkan kesadaran berbahasa Indonesianya terlebih dahulu ( B-S ).
3.      Kesadaran berbahasa seseorang tidak dapat dilihat  dari tanggung jawab dan sikapnya terhadap bahasa Indonesia ( B-S ).
4.      Mahasiswa Program Studi Matematika tidak perlu memiliki kesadaran berbahasa Indonesia sebab mereka tidak akan menjadi guru bahasa Indonesia (B-S).
5.      Membiasakan diri berbahasa sesuai kaidah bahasa Indonesia terutama di dalam forum-forum resmi, merupakan wujud tanggung jawab seseorang terhadap bahasanya ( B – S  ).
6.      Menurut Mansoer Pateda, tanggung jawab terhadap bahasa dan berbahasa dapat diwujudkan hanya dalam bentuk partisipasi formal ( B – S  ).
7.      Pengguna bahasa yang berpartisipasi secara formal, biasanya dengan kesadaran sendiri berusaha untuk menjadi peserta aktif dalam setiap kegiatan kebahasaan (B-S).
8.      Mahasiswa Program Studi Matematika idealnya berpartisipasi dalam kegiatan pembinaan bahasa,  minimal dalam bentuk partisipasi formal (B-S).
9.      Salah satu contoh partisipasi formal yang dapat dan patut dilakukan mahasiswa  Program Studi Matematika adalah berupaya untuk selalu berhati-hati dalam berbahasa sehingga bahasa yang digunakannya senantiasa tertib dan terpelihara ( B – S ).
10.  Mampu menghafal kaidah bahasa Indonesia dengan baik tanpa berlatih mengimplementasikannya belum menjamin seseorang akan menjadi pengguna bahasa yang baik (B-S).
11.  Mahasiswa Program Studi Matematika yang sudah berusaha untuk berbahasa sesuai kaidah  bahasa Indonesia dalam forum-forum resmi, merupakan pertanda bahwa dia sudah memiliki kesadaran berbahasa (B-S).
12.  Kalimat efektif biasanya tidak komunikatif (B-S).
13.  Kalimat yang ambigu termasuk salah satu contoh kalimat efektif ( B-S )
14.   Kalimat ambigu adalah kalimat yang tidak memiliki struktur yang lengkap ( B-S ).
15.   Penggunaan bahasa Indonesia  yang baik dapat dilihat antara lain dari keefektifan kalimat serta ketepatan diksi dan ejaannya (B-S).

BAGIAN B

Petunjuk
Jawablah soal berikut dengan mempergunakan bahasa Indonesia yang baik dan bernalar
karena bahasa jawaban Anda termasuk bagian yang dinilai.

SOAL
Ada pernyataan yang berbunyi, “Maju mundurnya suatu bahasa sangat ditentukan oleh
kesadaran berbahasa pemakai bahasa itu sendiri”.
1. Setujukan Anda dengan pandangan tersebut? Apa alasannya?  Tulislah argumentasi Anda terkait ini dalam satu paragraf.
Jawab : Setuju, karena kesadaran berbahasa itu tercermin pada tanggung jawab, sikap, perasaan memiliki bahasa yang pada gilirannya menimbulkan kemauan untuk ikut membina dan mengembangkan bahasa.
2. Tulislah minimal lima ciri orang yang memiliki Kesadaran Berbahasa. Uraikan masing-masingnya dengan singkat.
1.      Selalu berhati-hati menggunakan bahasa karena penilaian orang terhadap orang lain dilihat dari bagaimana dia berbahasa.
2.      Tidak merasa senang melihat orang yang menggunakan bahasa secara serampangan karena orang yang memiliki kesadaran bahasa mempunyai rasa ikut memilki bahasa yang tinggi.
3.      Memperingatkan pemakai bahasa kalau ternyata ia membuat kekeliruan karena orang yang memiliki kesadaran berbahasa mampu untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar.
4.      Tertarik perhatiannya kalau orang menjelaskan hal yang berhubungan dengan bahasa karena orang yang memiliki kesadaran berbahasa selalu ingin menambah pengetahuan dan wawasan dibidang bahasa untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
5.      Dapat mengoreksi pemakaian bahasa orang lain karena orang yang memiliki kesadaran berbahasa, dia merasa pengetahuan dalam berbahasa lebih baik sehingga mampu untuk mengoreksi ketika orang lain salah dalam berbahasa.
6.      Berusaha menambah pengetahuan tentang bahasa tersebut.
7.      Bertanya kepada ahlinya kalau menghadapipersoalan bahasa.
2.  Sudahkah Anda memiliki kelima ciri tersebut? Jelaskanlah dengan argumentasi yang bernalar.
    Belum, saya merasa belum memiliki kesadaran berbahasa karena saya belum mampu untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.
4.  Upaya apakah yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Anda?
    Jelaskanlah.
Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa yaitu mempunyai rasa ikut memiliki bahasa, seperti : lebih berhati-hati dalam berbahasa, berusaha menambah pengetahuan tentang bahasa dan bertanya kepada ahlinya kalau menghadapi persoalan bahasa. Sehingga dapat menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih baik dan benar.


Minggu, 08 April 2012

Tugas 4


Kesadaran Berbahasa
Bahasa muncul dari ujaran orang seorang. Bahasa merupakan hasil aktifitas manusia. Maju mundurnya suatu bahasa bergantung pada tiap pemakai bahasa. Oleh karena itu, kita wajib meneropong kesadaran manusia agar media komunikasi itu terarah dan terhina meskipun kepunahan suatu bahasa boleh saja terjadi.
Kesadaran berbahasa adalah sikap seseorang baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama bertanggung jawab sehingga menimbulkan rasa memiliki bahasa dengan demikian ia berkemauan untuk ikut membina dan mengembangkan bahasa.
Adapun cirri-ciri orang berkesadaran berbahasa, yaitu:
·         Sikap terhadap bahasa dan berbahasa
·         Tanggung jawab terhadap bahasa dan berbahasa
·         Rasa ikut memiliki bahasa
·         Berkemauan membina dan mengembangkan bahasa
Tiap orang harus disadarkan untuk bertanggung jawab terhadap bahasa ibunya dan bahasa nasional. Cirri orang yang bertanggung jawab terhadap suatu bahasa yaitu:
·         Selalu berhati-hati menggunakan bahasa
·         Tidak merasa senang melihat orang yang menggunakan bahasa secara serampangan
·         Memperingatkan pemakai bahasa kalau ternyata ia membuat kekeliruan.
·         Tertarik perhatiannya kalau orang menjelaskan hal yang berhubungan dengan bahasa.
·         Dapat mengoreksi pemakaian bahasa orang lain.
·         Berusaha menambah pengetahuan tentang bahasa tersebut.
·         Bertanya kepada ahlinya kalau menghadapipersoalan bahasa.
Harimurti Kridalaksana (1978 : 98) mengatakan bahwa BI dipergunakan untuk keperluan-keperluan resmi, yaitu dalam:
1.      Komunikasi resmi
2.      Wacana ilmiah
3.      Khotbah, ceramah dan kuliah
4.      Bercakap-cakap dengan orang yang dihormati
Sikap terhadap bahasa dan berbahasa dapat diihat dari dua segi, yakni:
a.       Sikap positif
b.      Sikap negatif
Sikap positif terhadap bahasa lebih banyak kita lihat dari pelaksanaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari oleh pemakai bahasa. Sikap positif terhadap bahasa dan berbahasa juga terlihat pada penampilan seseorang ketika dia menggunakan bahasa.
Perasaan memiliki bahasa menimbulkan tanggung jawab dan kegiatan untuk membina bahasa baik melalui kegiatan pribadi dan kegiatan kelompok. Partisipasi dalam pembinaan bahasa terbagi menjadi dua, yaitu:
1.      Partisipasi informal, yaitu sikap saat kita menggunakan bahasa terutama pemakaian bahasa yang tertib
2.      Partisipasi formal, yaitu partisipasi secara aktif.
Tentu tidak semua pengguna bahasa diharakan berpartisipasi secara formal. Yang diharapkan minimal kita berpartisipasi secara informal. Dngan penuh kesaaran, kita menggunakan bahasa secara tertib. Memang berat, namun jika kita sebagai pengguna bahasa telah menyadari perlunya pembinaan suatu bahasa, maka usaha apapun yang akan dijadikan pasti akan berhasil


Senin, 02 April 2012

Tugas 3


Manfaat Membaca dalam Penulisan Karya Tulis


Pendahuluan
Apa sih manfaat membaca itu??? Hal yang menjadi pertanyaan didalam diri kita. Yang paling utama kenapa kita diharuskan membaca, karena merupakan perintah Allah SWT. Dalam Al-Qur’an surat Al-‘Alaq (96) ayat 1, lafalnya “ Iqro’ bismi robbikal-ladzi kholaqo “ yang artinya “ Bacalah dengan nama robb (Tuan, Tuhan) kamu (yakni Aloh) yang menciptakan.“
Lantas membaca apa? Dikatakan dalam Al-Qur’an surat Al-Muzzamil (73) ayat 20, lafalnya “…Faqro-u ma tayassaro minal-qur’an…” yang artinya “…Maka bacalah apa yang mudah (bagi kalian) dari Al-Qur’an…”
Menurut Drs. Nurhadi (1987) Membaca adalah aktivitas yang kompleks yang melibatkan berbagai faktor yang datangnya dari dalam diri pembaca dan faktor luar. Faktor internal dapat berupa intelegensi (IQ), minat, sikap, bakat, motivasi, tujuan membaca dan sebagainya. Faktor eksternal bisa dalam bentuk sarana membaca, teks bacaan, faktor latar belakang sosial ekonomi, kebiasaan dan tradisi membaca. Selain itu, membaca juga dapat dikatakan sebagai jenis kemampuan manusia sebagai produk belajar dari lingkungan dan bukan kemampuan yng bersifat instingnif, atau naluri yang dibawa sejak lahir. Oleh karena itu, proses membaca yang dilakukan oleh seseorang merupakan usaha untuk menghasilkan sesuatu melalui penggunaan modal tertentu. Kemudian menurut pakar yang lain yaitu Edward L. Thorndike, Reading as Thinking dan Reading as Reasoning. Artinya, bahwa proses membaca itu sebenarnya tak ubahnya dengan proses ketika seseorang sedang berpikir dan bernalar. Dalam proses membaca ini terlihat aspek – aspek berpikir seperti mengingat, memahami, membandingkan, menemukan, menganalisis, dan pada akhirnya menerapkan apa-apa yang terkandung dalam bacaan. Sepaham dengan pendapat tersebut, menurut Pawit M. Yusuf membaca adalah berfikir. Tidak ada manusia yang hidup tanpa berfikir, karena sebagai mahkluk sosial ia selalu menghadapi berbagai masalah yang perlu dipecahkan.


Pembahasan
Tingkat pemahaman terhadap bacaan, kurangnya minat membaca merupakan indikator keefektifan membaca seseorang. Jika seseorang yang mempunyai minat dan perhatian yang tinggi terhadap bacaan tertentu, dapat dipastikan akan memperoleh pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengan orang lain yang kurang minat membaca.
Ada faktor – faktor eksternal tertentu yang mempengaruhi terhadap kemampuan membaca. Ambil saja  contoh faktor sarana membaca. Penerangan yang jelek akan sangat mempengaruhi hasil membaca. Ingat terjadinya kelelahan mata yang kita alami ketika membaca di tempat yang kurang terang. Demikian juga faktor latar belakang sosial ekonomi, status sosial ekonomi yang tinggi cenderung dilimpahi kemudahan sarana membaca yang memadai. Sehingga terbentuk tradisi atau kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca ini yang akan mempengaruhi kemampuan, kecepatan dan keefektifan membaca seseorang.  
Ada indikator bahwa tingkat kemajuan suatu bangsa itu dapat diukur dari berapa banyak waktu sehari-hari yang digunakan untuk membaca, artinya menurt kebutuhan secara pribadi bukan dipaksa membaca seperti halnya membaca demi tugas sekolah, maka semakin tinggi tingkat budaya bangsa tersebut.
Minat baca berbanding lurus dengan kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang besar minat bacanya pastilah bangsa yang maju. Mereka akan membaca dalam setiap kesempatan contohnya terlihat tidak hanya dalam perpustakaan umum dan pribadi tetapi juga di stasiun, di kereta,dan dalam perjalanan pun mereka membaca.
Mengenai manfaat membaca, dengan membaca buku bermutu, seseorang memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan orang yang tidak membaca. Selain dengan membaca, orang lebih terbuka cakrawa pemikirannya. Melalui bacaan, seseorang berkesempatan melakukan refleksi dan meditasi sehingga budaya baca lebih terarah kepada budaya intelektual dari pada budaya hiburan yang dangkal. Oleh karena itu, para pakar menyimpulkan untuk membangun masyarakat yang beradab dan maju maka budaya baca perlu dtumbuhkan. Sebagai bahan bacaan utama buku yang bermutu menjadi sarana belajar yag paling berpengaruh seperti di Ensiklopedia.
Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni, dalam bukunya, “La Tahzan” mengungkapkan tentang banyaknya manfaat membaca, yaitu di antaranya sebagai berikut :
  • Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
  • Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan.
  • Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
  • Dengan sering membaca, orang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
  • Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
  • Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
  •  Dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain: kearifan orang bijaksana dan pemahaman para sarjana.
  • Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup.
  • Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
  • Dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai tipe dan model kalimat; lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).
Membaca merupakan salah satu aktifitas untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi kita. Selain itu, buku bacaan juga sangat mempengaruhi psikologi seseorang. Memberikan buku bacaan yang tidak sesuai akan menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan psikologi. Oleh karena itu, perlu ada campur tangan dari orang tua dalam memilih buku bacaan bagi anak. Semoga bermanfaat bagi kita semua sehingga memotivasi kita semua untuk lebih giat lagi membaca... Never Stop for Learning..!!


DAFTAR PUSTAKA

Nurhadi. 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Malang: Setia Budi.



Jumat, 30 Maret 2012

Tugas 2



Hal yang menyenangkan selama mengikuti perkuliahan Bahasa Indonesia yaitu ketika saya mengenal sosok seorang dosen yang asik diajak berdiskusi. Nama beliau Isna Sulastri. Saya mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai aturan - aturan dalam menulis. Sehingga perlahan - lahan saya tidak terlalu kaku dalam hal  menulis. Mesipun memang saya belum mahir dalam hal menulis. Tetapi saya selalu berusaha untuk memberikan hasil yang bagus. Walaupun tidak seutuhnya bagus.
         Hal yang kurang menyenangkan selama mengikuti perkuliahan Bahasa Indomesia ialah disaat saya harus memenuhi tugas menulis diblog. Awalnya saya merasa sangat bingung dan jengkel. Rasa bingung itu tumbuh ketika saya harus menulis hal - hal yang kurang dipahami. Tetapi setelah dipelajari dan dijalani ternyata saya bisa memenuhi tugas menulis diblog saya sendiri. Sampai saat ini saya menjadi lebih bisa mengungkapkan perasaan saya sendiri.

Senin, 27 Februari 2012

mengapa kita harus belajar bahasa indonesia?

Nama    : HerniApriani
NIM    : 41032151111021
Prodi    : FKIP. Matematika

MENGAPA KITA HARUS BELAJAR BAHASA INDONESIA?
     Kita harusbelajarbahasa Indonesia karenamenurut S. Effendi “Bahasa adalah sumber daya bagi kehidupan bermasyarakat. Kita dikenal dan menjadi populer di lingkungan pekerjaan maupun di lingkunganlainnya, apabila kita mau dan mampu memahami orang lain dan mampu pula membuat orang lain memahami kita. Kita berhasil dalam belajar, bekerja, atau melakukan berbagai aktivitas, biasanya juga karena kita dapat memahami orang lain dan dapat pula membuat orang lain memahami kita”.
     Menurut saya, kita harus belajar bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia sangat penting bagi kita sebagai warga Negara Indonesia yang wajib memahami dan mengerti bahasa Negara kita sendiri. Bahasa Indonesia dapat menyatukan perbedaan bahasa dalam beberapa daerah di Indonesia.Setiap daerah di Indonesia memiliki bahasa masing – masing sehingga bahasa Indonesia dijadikan bahasa kesatuan. Kita seharusnya bangga dengan bahasa Indonesia karena itu adalah bahasa kitas endiri. Dalam kehidupan sehari – hari bahasa berfungsi sebagai alatu ntuk komunikasi, alat berinteraksi dan alat adaptasi.Manusia memakai dua cara untuk berkomunikasi yaitu dengan bahasa verbal dan nonverbal. Bahasa verbal dilakukan dengan cara menggunakan alat atau media bahasa lisan dan bahasa tulisan, sedangkan bahasa nonverbal dilakukan dengan cara media selain bahasa yang digunakan dalam bahasa nonverbal yaitu berupa symbol, isyarat, kode, dan bunyi seperti tanda lalulintas, morse, sirene, kentongan atau terompet. Dua cara tersebut menunjukan bahwa bahasa tidak hanya digunakan untuk orang – orang yang tidak mempunyai keterbatasan dalam berbahasa, seperti pada bahasa isyarat yang digunakan oleh tuna rungu, dan juga tulisan braile pada tuna netra dalam berkomunikasi.
    Menurut Isna Sulastri, “secara perlahan tapi pasti kita dapat berkiprah sebagai pengguna bahasa yang memiliki kompetensi dan performansi yang memadai dibidang ini. Bagaimana caranya? Tentusaja dengan berupaya menjadi penyimak dan pembaca yang baik, untuk kemudian juga berlatih menjadi seorang pewicara dan penulis yang baik. Sebagai seorang penulis yang baik, kita harus berupaya untuk mampu pula menghadirkan karya tulis terbaik yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang baikdan bernalar”.